PERRAKA dan PRAMUKA BERSHOLAWAT MTs. ZAHA Genggong

Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan santri dan menambah pengetahuan kepramukaan, Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan Genggong (MTs. Zaha) menggelar kegiatan perkemahan yang bertajuk “Perraka (Perkemahan Rabu malam Kamis) di Bumi Perkemahan Pondok Pesantren Zaha 2, Desa tambelang Kecamatan Krucil. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (8-9/1) ini diikuti seluruh santri semester satu. Sebanyak 190 santri harus menjalani serangkaian kegiatan yang sudah menjadi program wajib bagi santri semester satu.


Pada hari pertama, santri mendapatkan materi pelatihan baris berbaris dan pembentukan karakter santri. Pada materi ini, kegiatan dipimpin langsung oleh tiga anggota Koramil Kecamatan Krucil. Pada bagian ini, emosi dan fisik santri cukup terkuras. Pasalnya, karena selain baris berbaris, santri juga mendapat pelatihan fisik dan hukuman bagi yang salah dan kurang fokus. Tidak hanya hukuman fisik, pemateri dan pembina pramuka juga memberi hukuman bagi santri yang memiliki model rambut tidak rapi. Mereka yang rambutnya tidak rapi langsung dirapikan oleh pemateri dan pembina.


“Rambut kalian yang tidak karuan itu, membuat image nakal bagi dirimu sendiri. Harusnya sebagai santri, kalian jaga penampilan agar tidak dicap jelek oleh masyarakat. Paham!” tegas salah satu pemateri.
Pada malam hari, kegiatan dilanjut dengan kegiatan Pramuka Bersholawat. Kegiatan bersholawat dipandu langsung oleh tim Hadroh Al Munsyiduna MTs. Zaha. Dipimpin oleh Ustad Hodri, kegiatan bersholawat berlangsung khidmat dan mendapat respon yang antusias, baik dari peserta Perraka maupun warga setempat.


Selesai kegiatan Pramuka Bersholawat, para peserta mengikuti renungan malam sambil menyalakan api unggun.
Di hari kedua, kegiatan dimulai sejak dini hari. Setelah selesai sholat Shubuh, para peserta langsung mendapatkan materi penjelajahan. Pada kegiatan ini, peserta lagi-lagi harus menguras banyak tenaga. Mereka harus berjalan dari buper menuju salah satu bukit di Desa Bermi untuk menemukan bendera merah putih biru. Pada proses penjelajahan ini, peserta digembleng agar tidak manja, tidak penakut, dan punya karakter pekerja keras. Para peserta direndam di kolam, merangkak, dan meniti bukit. Meski kedinginan, para peserta berhasil mencapai bukit. Salah satu peserta yang pertama kali mencapai puncak bukit langsung merobek warna biru yang tersemat di bendera. Semua peserta menangis haru dan mencium bendera Merah Putih.


“ini hanya sebagian kecil contoh perjuangan. Kalian yang bermalas-malasan, harusnya tahu diri. Para pejuang harus berkorban darah untuk merebut kemerdekaan. Mulai hari ini, setelah ini, buang jauh-jauh sikap manja kalian,” Jelas Kak Ibrahim selaku pembina Pramuka.
Setelah mendapat pengarahan dari pembina, para peserta kembali ke bumi perkemahan. Tepat pukul sepuluh, kegiatan perkemahan berakhir dan para peserta pulang menuju ke Pesantren Zainul Hasan Genggong. (Gus.Ry)