Tingkatkan Kreativitas Guru, MTs. Zaha Gelar Workshop Pembelajaran

Guna meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran, Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong menggelar Workshop Pembelajaran bertajuk “Menjadi Guru Inovatif, Kreatif, dan Interaktif.” Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (19/08) di Aula Tabaarakallah dengan menghadirkan narasumber dari Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Dr. Widayanto, M.Pd dan dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik MTs. Zaha.

Acara dibuka langsung oleh Kepala Madrasah, Almukarram KH. Moh. Hasan Naufal, S.H.I., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau berharap dengan adanya workshop ini, para tenaga pendidik mendapatkan ilmu baru dan dapat menerapkannya di kelas nantinya.

Workshop dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, Dr. Widayanto memaparkan tentang beberapa model pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan interaktif  dalam kelas. “Jadi, Bapak-Ibu, ketika kita masuk ke dalam kelas, buat suasana yang menyenangkan dan aktif. Jangan kita masuk kelas hanya karena ingin menggugurkan kewajiban. Berikan yang terbaik pada siswa-siswa anda.” Papar pemateri asal Kota Malang tersebut.

Selain itu, peserta workshop juga diajak untuk praktik menggunakan media dan sumber pembelajaran, baik online maupun offline. Seperti penggunaan media pembelajaran aplikasi Quizizz. Para asatid-asatidzah tampak sangat antusias mengikuti kuis melalui media pembelajaran Quizizz tersebut. Seperti yang disampaikan Ustad Kamaluddin. Menurut beliau, kegiatan workshop ini sangat positif. “Ini kegiatan yang sangat seru. Tidak membosankan. Kenapa? karena kita juga ikut praktik layaknya para murid.” Ungkap salah satu guru Al Qur’an Hadits tersebut.

Keseruan Workshop berlanjut di sesi dua. Pada sesi ini, para peserta workshop diajak untuk melakukan simulasi pembelajaran yang aktif, kreatif, dan interaktif. Simulasi pertama, para peserta diajak untuk praktik model pembelajaran Two Stay Two Stray. Para asatid dibagi menjadi 17 kelompok yang berisikan lima guru tiap kelompok. Di setiap kelompok, ada yang bertugas untuk mengerjakan soal, ada yang bertugas bertamu untuk sharing dengan anggota kelompok lain.

Selain Two Stay Two Stray, pemateri yang pernah mendapat penghargaan tingkat nasional tersebut juga mengajak para peserta untuk simulasi model pembelajaran Snowball Throwing, model pembelajaran yang mengharuskan para siswa membuat dan menjawab soal sendiri dengan melempar kertas berisi pertanyaan.

“Jadi, dengan pembelajaran seperti itu (Snowball Throwing), para siswa akan aktif di kelas karena soalnya dari siswa, jawabannya juga dari siswa.” Imbuhnya. Gus/Ry

Telegram
Facebook
Twitter
WhatsApp
Print

Tinggalkan Balasan