Krisis Motivasi dalam Dunia Pendidikan

*Edi Kurniawan Farid, S.Hum

Motivasi sangatlah penting dalam hidup kita. Saya teringat dengan sebuah ungkapan bahwa “orang yang sukses adalah mereka yang pandai memotivasi dirinya sendiri”. Berdasarkan sumbernya motivasi dibagi menjadi dua; internal dan eksternal. Internal meliputi diri sendiri dan lingkungan keluarga. Eksternal meliputi orang disekitar dan lingkungannya. Menurut ungkapan di atas, bisa dipahami bahwa orang yg sukses adalah mereka yg pandai membangun motivasi dalam kondisi (internal dan eksternal) seperti apapun. Susah, sedih, melarat, terpinggirkan, kekurangan, keterbatasan, dan lain sebagainya.

Yang berbahaya adalah apabila pada kondisi yang cukup menguntungkan, kita masih tetap tidak bergairah dan tidak memiliki motivasi, maka inilah yang disebut krisis motivasi. Jadi, krisis motivasi dalam konteks ini diartikan sebagai kondisi jumud (baca: stagnan) dimana seorang individu tidak berdaya mengelola potensi yg ada sehingga ia berada pada kondisi yang paling terpuruk. Krisis motivasi terjadi ketika arah bangunan tujuan yang ingin dicapai tidak lagi terang di depan mata.

Dalam dunia pendidikan, krisis motivasi menjadi penyakit yang amat berbahaya. Sebab pendidikan dan pengajaran sebagai subtansi dari pendidikan itu sendiri, membutuhkan motivasi kuat untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, pendidik, peserta didik, bahkan lingkungan belajar harus di didirikan sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat termotivasi dan meningkat keinginan belajarnya.

Apabila terjadi kondisi krisis motivasi pada peserta didik, maka tugas pendidik untuk membangun lagi motivasi peserta didiknya. Bagaimanapun caranya motivasi peserta didik harus tetap terjaga dan terbangun, supaya cita-cita pendidikan dapat tercapai. Oleh sebab itu pendidik harus mampu menjadi sumber motivasi. Bagaimana jadinya bila peserta didik kita mengalami kondisi terburuk yakni hilangnya motivasi belajar, sedangkan pendidiknya juga krisis motivasi. Maka sebagai salah satu fungsi utama pendidik, mereka harus memotivasi peserta didiknya, tentunya dengan program-program dan pendekatan-pendekatan yang lebih menarik untuk dapat membangun lagi motivasi peserta didik.

Berkenaan dengan anjuran motivasi ini, Allah swt di dalam alquran, memerintahkan kita untuk saling berwasiat perihal kebaikan dan kesabaran (Qs. Al ‘Ashr: 3). Pada potongan ayat yang sama juga dijelaskan kerugian orang yang meninggalkan amal shaleh. Jadi pada ayat ini, amal shaleh dikaitkan langsung dengan anjuran berwasiat perihal kebaikan dan kesabaran. Anjuran wasiat kebaikan dan kesabaran merupakan esensi dari tindakan memotivasi. Artinya, dari ayat ini dapat dipahami bahwa ada kaitan kuat antara amal shaleh dan anjuran motivasi pada kebaikan. Bisa jadi di suatu saat, ketika seseorang tidak bergairah dan tidak memiliki motivasi sedikitpun untuk berbuat suatu kebaikan (amal shaleh), maka kita berdasarkan ayat di atas diperintahkan untuk saling memotivasi satu sama lainnya perihal kebaikan.

Begitu juga dalam dunia pendidikan,pendidik sebagai salah satu sumber motivasi bagi peserta didiknya harus senantiasa mengingatkan kembali hakikat belajar dan mencari ilmu sebagai tujuan awal peserta didik harus terus menerus dilakukan. Supaya peserta didik tidak lupa tujuan awal mereka menuntut ilmu. Dengan begitu, peserta didik akan mengoptimalkan upayanya sendiri untuk membangun motivasi dalam diri mereka. Tentunya dengan berbagai hal dan cara yang terus dilakukan. Dengan demikian, pada akhirnya pendidikan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seusai dengan tujuan awalnya.

Penulis; Edi Kurniawan Farid, S.Hum

Penulis; Edi Kurniawan Farid, S.Hum

*Penulis adalah Guru Bahasa Arab dan Kajur Agama MTs. Zainul Hasan Genggong