
Ketika seseorang melakukan muhasabah, maka akan tampak jelas di hadapannya atas dosa-dosa yang dilakukan. Bagaimana mungkin seorang anak cucu Adam dapat melihat dosa dan aibnya tanpa melakukan muhasabah?
Pertanyaan di atas mungkin banyak menghampiri benak seorang muslim, ada di antara mereka yang memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan dunianya tanpa memikirkan apa yang akan menjadi bekalnya di akhirat. Ada pula yang beribadah sebagaimana apa yang Allah perintahkan, namun ibadahnya hanyalah sebagai rutinitas. Mereka salat lima waktu setiap harinya, akan tetapi semua itu tidak berdampak pada akhlak dan pribadinya, maksiat pun terkadang masih sering dilakukan. Motivasi untuk memperbaiki amalan-amalan yang ada tak kunjung hadir, penyebabnya satu karena melupakan muhasabah diri sehingga orang-orang seperti ini sudah merasa cukup dengan amalan yang telah dilakukan.
Untuk memperbaiki diri, pada hari Rabu kemarin (3/8) MTs Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong melaksanakan kegiatan Muhasabah Diri yang diikuti oleh seluruh santri hingga asatidz MTs. Zaha.
Program rutin setiap awal semester yang digagas oleh waka humas ini berlangsung di 2 tempat, yakni di aula putra yang berlangsung pada pukul 7.15 dan di aula putri dilaksanakan pada pukul 9.00.
Kepala MTs. Zaha Genggong, Abuya KH. Moh. Hasan Naufal yang memimpin langsung acara ini berpesan untuk selalu menyukuri dua karunia besar dari Allah SWT, yaitu hadirnya orang tua yang melahirkan kita dan para guru sebagai pembimbing kita.
“mumpung kita masih hidup, segeralah meminta maaf kepada Orang tua dan guru-guru kita. Selagi jasad belum terbaring di alam kubur, segeralah berbakti kepada mereka”. ujar beliau.
Dengan pembawaan yang tenang dan lugas, beliau menjelaskan keadaan seseorang yang sendiri di alam kubur, tanpa seorangpun yang menemani kecuali amal belaka, berapa banyak dosa yang telah dilakukan, hingga seberapa sering membuat orang tua bahagia. Beberapa penjelasan beliau rupanya membuat para santri hingga asatidz tak mampu membendung air mata.
Dengan posisi menundukkan kepala mereka mengucurkan air mata seolah menunjukkan penyesalan mendalam atas kesempatan yang disia-siakan. Suasana tangis makin bergemuruh ketika doa dalam bahasa Indonesia mulai dilantunkan oleh kepala madrasah.
Salah satu santri kelas VII mengatakan bahwa dirinya merasa banyak dosa, baik kepada orang tua, guru dan teman. “Saya ingat kepada orang tua, banyak biaya yang beliau keluarkan untuk saya sedangkan saya belum bisa berbuat sesuatu untuknya, tapi saat ini berusaha semangat belajar demi mereka”. Akunya. (Tgh/Fin)



Tinggalkan Balasan