Bank Sampah MTs. Zaha Olah Sampah Plastik Menjadi Batako

Proses Pembuatan Batako Hasil Olahan Bank Sampah MTs. Zaha

Genggong- Sampah plastik menjadi sumber masalah bagi sebagian orang karena dianggap mencemari lingkungan. Sampah ini masih belum terurai di dalam tanah meskipun sudah ditimbun selama lebih 100 tahun.

Namun ditangan Bank Sampah Teristimewa (BST) Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong, plastik bekas justru menjadi barang paling diburu saat ini. Melalui kreasi pengurus bank sampah, limbah plastik bisa disulap menjadi batako bernilai tinggi.

Kreativitas pengurus bank sampah ini muncul saat mereka melihat sampah plastik yang menumpuk di tempat sampah. Sampah yang berupa plastik bungkus makanan dan minuman tidak laku dijual ke pengepul hanya membuat gudang bank sampah terasa sesak. Manager BST, Ustadz Nanang Ishariyanto memutar otak untuk mencari solusi masalah tersebut. Beliau yakin bahwa ada manfaat lebih dari sampah plastik yang menumpuk dan tidak laku dijual itu.

“Saya berpikir siang malam, apa yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan sampah palstik ini agar tidak menumpuk dan tidak membekas meskipun dibakar.,”ujarnya.

Ia pun iseng memanaskan plastik itu dengan wajan yang biasa dipakai untuk memasak. Para asatidz yang melihatnya merasa sedikit aneh, terlebih wajannya sampai hitam karena dipakai memanaskan plastik.

Ternyata lelehan plastik tersebut dibuat untuk mengisi cetakan paving. Setelah berulang kali uji coba akhirnya BST berani meyakinkan para asatidz mengenai kualitas paving buatannya.

Terbukti, ungkap Ustadz Nanang, paving ini jauh lebih kuat daripada paving yang terbuat dari semen.

“Saya uji coba terus, untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Saya banting berulang kali ke batu tidak pecah. Saya palu tidak pecah. Beda dengan paving yang terbuat dari semen. Sekali banting langsung pecah. Saat ini kualitasnya sudah bagus, dan saya berani menawarkan ke pembeli. Bahan dasarnya juga bisa dari jenis plastik apapun,” katanya mantap.

Bentuk paving berbahan plastik itu persis seperti paving pada umumnya. Yang membedakan, bobot paving kreasi bank sampah Teristimewa lebih ringan. Selain itu, bahan bangunan tersebut lebih mudah dicat dengan warna cerah.

Kepala MTs Zaha Genggong, KH. Moh. Hasan Naufal sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan bank sampah Teristimewa. Hal ini terlihat dari rencana pemasangan paving disekitar halaman madrasah memakai paving dari plastik ini.

“Terobosan ini perlu diviralkan ke khalayak luar. Karena ini adalah murni hasil anak bangsa yang belajar di madrasah. Saya yakin paving ini akan mendapatkan respon baik dari masyarakat. Saya akan mengawalinya dengan order dulu untuk pemasangan paving di sekitar halaman MTs Zaha” ujar beliau tersenyum.

Kepala madrasah juga menambahkan bahwa sampah yang sudah dibuang ke tempat sampah belum tentu bisa bersih,”Dengan membuang sampah melalui Tempat Pembuangan Akhir  masalah belum tentu selesai. Namun dengan didaur ulang jadi paving, masalah selesai tanpa melahirkan masalah. Malah bisa membantu ekonomi masyarakat,”ujar beliau mantap.

BST kini masih terkendala dalam mengembangkan usahanya. Karena alat produksinya terbatas sehingga belum mampu melayani permintaan yang mulai datang dari pelanggan yang mulai meningkat. Sementara modal yang dimilikinya untuk membeli alat cetakan terbatas. BST berharap bisa dilirik oleh berbagai pihak, utamanya pemerintah Kabupaten Probolinggo. (Tgh/Pin)