Tiara Ocha Ramadhina (VIII O)
Ali dikenal sebagai siswa yang terbilang cukup cerdas dan mampu menguasai berbagai bidang pelajaran.Namun , jika ditanya tentang ilmu agama , Ali hanya bisa diam. Itulah kelemahan seorang Ali. Disamping itu semua, Ali juga dikenal sebagai murid yang suka membuat onar.Itu semua karna kurangnya ilmu agama yang melekat pada diri Ali.Dua hari sebelumnya Ali mendapatkan hasil rapot dari wali kelasnya.Hasilnya benar benar memuaskan, Kecuali pelajaran PAI.Hal tersebutlah, yang pada akhirnya membuat Ali dipermalukan dengan teman ayahnya. Sebut saja ustad Hakim, Ustad Hakim yang nantinya akan mengajarkan ilmu agama pada Ali.
“Ali, mulai besok kamu harus belajar dengan ustad hakim, mulai sekarang dia adalah gurumu Ali , ingat itu!” ucap ayah tegas.
“ ali tidak butuh ustad yah , ali tidak suka !” bentak ali
PIAK…….
Ayahnya menampar keras pipi ali hingga menyisahkan bekas merah dipipinya .
“ Mau jadi apa masa depan kamu tanpa agama ali , Mungkin kepintaranmu untuk meraih kesuksesan dunia masih bisa , tapi tidak untuk kesuksesan di akhirat kelak , jika ayahmu ini meninggal apa yang bisa ali berikan untuk ayah ? harta ?semua itu tidak aka nada nilainya , yang ayah butuhkan adalah do’a dari ali “. Bungkaman itu lah yang ali dapat dari ayahnya .
Yang diucapkan ayahnya itu memang benar . Ali tidak bisa mengelak sama sekali .uncapan ayahnyaiyu sukses membuat ali begitu tersanjung dan terpaku untuk beberapa saat .
2 menit setelahnya , ayah ali melanjutkan uncapan yang sempat ia tahan “ apakah ali selama ini selalu mendo,akan ibu ? “ .
Ali menunduk sambil meneteskan air matanya .pasalnya ali tidak pernah mendo’akan ibunya yang sudah meninnggal . ali tidak tau bagaimana cara mendoakan kedua orang tuanya .
“Ali , perbanyaklah ilmu agama. Berbaktilah kepada orang tua , berbuat baik maka kamu akan jadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Ayah tidak mau kamu termasuk orang orang ahli neraka . “
Entahlah, ucapan ayahnya itu seakan mendorong Ali hingga membuatnya tersadar bahwa ilmu agama itu penting . dan didetik itu pula , Ali menanamkan niatnya untuk mencari ilmu dan mempelajari lebih dalam lagi. Ia ingin merubah dirinya menjadi lebih baik lagi .
“Ayah , Ali janji akan membuat ibu bangga sama Ali. Ali juga janji mau cari ilmu agama seperti yang ayah bilang tadi , Ali maulakukan semuanya , insyaallah “
Ucapan Ali sempat membuat ayahnya terharu.Ia harap ali akan menjadi golong ahli surga nanti AMIN.
***
Seperti kata ali kemarin , ia kan belajar bersama ustad hakim butuh sekitar 20 menit untuk sampai dikediaman ustadm dengan mengendarai sepedah ontel miliknya.
Tak lama , Ali pun sampai dikediaman ustad hakim.
“ Ustad…!” panggil Ali ketika sudah berada didepan pintu.
Merasa tak ada respon, Ali kembali memanggil nama ustad Hakim. Kali ini dengan mengetuk pintu. Di waktu yang bersamaan pul, ustad Hakim membuka pintu lalu mempersilahkan ali untuk masuk kedalam rumahnya kini mereka duduk berhadapan diruang tamu .
“Ali sendiri kesini?“Tanya ustad Hakim.
Ketika ia tersadar tidak melihat kehadiran Pak Ikhsan, ayah Ali.
Ali mengangguk sebagai jawabannya.
“Ayah sedang sibuk ustad , jadi ali kesini sendiri, sesuai dengan alamat yang ayahberi untuk ali “
“Semoga niatmu untuk belajar itu sungguh sungguh ali “
“Pasti ustad , oh ya jadi materi apa yang akan ustad ajar hari ini “ Tanya ali .
“Akhlak”
Ini adalah awal pembelajaran yang ali dapatkan dari ustad hakim .dari waktu kewaktu , hari demi hari ali luangkan waktu bermainnya untuk belajar bersam austad hakim . seiring berjalanya waktu , ali tumbuh menjadi seorang remaja dengan banyaknya ilmu yang melekat kuat pada dirinya . tidak seperti dahulu yang biasanya bermain dan membuat keributan disekolah dasarnya . ali yang sekarang mendadak lebih kenal dengan kebaikan dan kesantunannya sebagai seorang santri. lebih detailnya sebagai santri, sebagai santri di pondok Pesantren Zainul Hasan Gengggong. Kala itu, Ali sedang berteduh di sebuah toko kecil.Cuaca sedang tidak mendukung waktu itu. Hari yang biasanya ditemani terik matahari harus tertutupi oleh awan mendung, hujan deras dengan gemuruhnya suara petir terus menemaninya .
Seragamnya juga mulai basah terkena tetesan air hujan.Selang beberapa menit pemilik toko itu sengaja melihat keberadaan Ali.Di waktu bersamaan pemilik toko itu datang menghampiri Ali.
“Masuk kedalam nak , jika terlalu lama basah-basahan nanti bisa sakit “ ucap wanita paruh bayavitu , ia merasah kasihan pada Ali .
“Jika saya masuk nanti lantainya bisa basah.Saya tidak ingin merepotkan nenek. Biar saya disini sampai hujan redah “
Pemilik took itu menatap Ali takjub. Jarang-jarang ada pemuda seperti Ali.Di saat nenek itu menawarkan bantuan lelaki itu malah menolak karena tak ingin merepotkanya.
“Siapa namamu nak ? “ Tanya nenek itu .
“ Ali “
Nenek itu mengangguk .
“Sepertinya hujan akan deras sampai nanti , kenapa sekolahmu tidak diliburkan saja ?”
Ali menggeleng
“Teman-teman saya sudah berangkat sebelum hujan tiba, pasti mereka sudah memulai pelajaran “
“ Ali telat ? “
Ali mengganguk.
Setelahnya itu , wanita paruh paya itu mengambil jas hujan milik cucunya lalu ia berikan pada Ali .
“Pakai ini nak , pergilah kesekolah ! “
Awalnya Ali merasa sungkan , tapi nenek itu sangat memaksanya terus menolak dan ujung-ujungnya akan sama. Dengan pasrah Ali mengambil jas hujan itu lalu memakakinya.
“Terimakasih nek, saya akan mampir kesini setelah pulang sekolah nanti”
“Assalamualaikum” ucap Ali
“waalaikumsalam”
Ali bergegas pergi menuju sekolah yang jaraknya sekitar 800 meter, sambil berlari-lari tak butuh waktu lama, tinggal menyeberang pun Ali sudah sampai di sekolah. Namun, saat pertengahan jalan, Ali terpeleset karena licinnya jalan waktu itu, belum lama setelah terjatuh, sebuah mobil putih menghantamnya sebelum ali bangkit dari posisinya. Semua terjadi begitu cepat. Ali benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Seingatnya ia tergeletak ditengah jalan dengan lumuran darah dibagian tubuhnya. Tak lama setlah itu, orang-orang dating mengerumuni dirinya, lalu menggotongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Diruang yang serba putih, disitu ali terbaring lemah. Kondisinya sangat menghawatirkan, jahitan di dahinya, lebam dimana-mana, dan luka yang ditutupi perban. Samar-samar ali mendengar seseorang membuka pintu lalu berjalan mendekat ke arahnya.
“Astaghfirullah” nadanya bergetar.
Ali seperti tidak asing mendengar suara itu.Tidak salah lagi itu suara ayahnya.
“Semoga Ali cepat pulih” disusun dengan suara ustad hakim.
Mendengar itu, ,membuat ali hendak membuka matanya. Namun apa yang dia lihat?.
Padangan matanya menyapu setiap sudut ruangan untuk menjadi titik terang.Tetapi hasilnya nihil.Semuanya gelap.
“Ayah, ustad disini gelap?” ujar dengan nada bergetar.
“Kecelakaan itu merusak kornea matanya” ujar seorang dokter yang tengah berdiri di ambang pintu
Pak Ikhsan dan ustad hakim menoleh ke sumber suara.
“Apa yang harus saya lakukan agar anak saya bisa melihat kembali dok?”
“Donor mata, tetapi di Negara Indonesia ini sulit menjadi pendonor mata.Jumlahnya sangat sedikit.Bahkan nyaris tidak ada”.Jelas dokter itu.
Mendengar percakapan antara dokter dan ayahnya itu membuat tubuh Ali melemas.Ia tidak menyangka dengan hal yang terjadi saat ini. Semuanya mendadak berubah begitu cepat. Tadi pagi ia sehat-sehat saja, tapi malam ini Ali harus menerima kenyataan bahwa ia mengalami kebutaan dan luka-luka di bagian tubuhnya.
Takdir memang tidak ada yang tahu kecuali Allah.Ali sangat ingin melihat dunia kembali.Ia ingin melihat wajah ayahnya, ustad Hakim, dan teman-temannya. Lalu apa kabar dengan nenek-nenek yang memberinya jas hujan tadi, ia tidak sempat mengembalikannya, semua itu terpampang jelas di pikiran ali.
1 minggu kemudian…….
Setelah musibah yang menimpanya beberapa minggu lalu, akhirnya diberi izin oleh pihak pesantren untuk memulihkan kondisinya dirumah.Pak ikhsan juga akhirnya menyerah untuk mencari pendonor mata.Ali juga menerima kenyataan dan terus bersabar. Seperti hadis di bawah ini:
“ barang siapa yang dua kecintaannya diambil dan dia bersabar, maka Allah akan menggantikan kedua kecintaannya mengganti kedua kecintaannya itu denga surga.”
(yang dimaksud dengan dua kecintaannya itu adalah mata)
Dari situlah ali mulai belajar untuk selalu bersabar .
Mushola, di situlah Ali menghafal Surat An-Naba’ dengan Al-Qur’an tarjetannya , juga ditemani oleh ustad Hakim. besok Ali akan wisuda. Setelah orang tuanya memutuskan untuk memberhentikan Ali karena tak memungkinkan untuk berada di pesantren.
“Alhamdulillah” itu yang diuncapkan Ali menuntaskan juz 30.Perjuanganya selama ini tidak sia sia. Perasaan bahagia bercampur haru ia rasakan didalam hatinya. Ia tidak sabar ingin melihat ekspresi ayahnya dan membanggakan ibunya yang telah meninggalkannya terlebih dahulu .
Ustad hakim yang melihatnya juga terhanyut suasana , ia ingin merasakan rasa haru itu .
“Alhamdulillah,ustad tidak sabar melihat Ali berdiri dipanggung nanti, ayahmu pasti bangga, Ali.”
Tak lama setelah ustad hakim berucap suara riuh mengerumuni depan rumah ali. ustad Hakim bisa melihatnya karena jarak musholah kerumah ali hanya bersebelahan .
Merasa ada yang tak beres ustad hakim membawa Ali kerumahnya. Ustad Hakim terlonjak saat melihat Pak Ikhsan diturunkan dari mobil ambulan apa yang terjadi?.Tak menunggu lama ustad Hakim langsung menemui salah satu perawat yang berdiri.
“Saya sahabatnya Pak , ada apa ini ? “ Tanya ustad Hakim .
“Pak Ikhsan terkena serangan jantung , mendadak kesakitan saat di kantor tadi.“ jelas temen dekat Pak Ikhsan yang berdiri .
“Dan… maaf….” Lirih sang suster .
“Beliau wafat” lanjutnya.
Seketika ustad Hakim yang mendengarkan ucapan itu , jantungnya berdegup begitu kencang, rasanya begitu sesak. Apa lagi yang menatap Ali dalam kondisi saat ini. Ustad Hakim hendak meraih pundak Ali untuk menyalurkan ketegarannya pada anak itu. Bulir- bulir bening membasahi pipi ustad Hakim .
“Ustad apa yang terjadi ?kenapa sangat rame di tempat ini?” Ali kebingunggan.
“ Ali “ ucapnya lirih.
Ali semakin menjadi rasa penasaran menghantuinya .
“ Ayahmu… ayahmu wafat “
“Ustad bohong, itu tidak mungkin Ustad !” ucapan Ali yang sangat tidak percaya atas kejadian yang menimpahnya lagi .
“Ali , biarlah ustad yang akan menggantikan posisi ayahmu nak ?” ujar ustad Hakim.
Sedangkan Ali menanggis dengan suasana kesedihan.
“Andaikan Ali tidak buta , pasti Ali sebelum ayah tiada masih ada kesempatan melihat wajah ayah “ lirihnya penuh dengan tangisan .
“Ali sabar”
Keesokan harinya…….
Ali barusan saja turun dari panggung dengan dituntun oleh ustad hakim.
“Ustad , padahal Ali ingin sekali ayah menyaksikan Ali di panggung “
Ali merasa sakit dansesak setiap kali merenungi atau menginggat wajahayahnya .
“Da’akan saja, kedua orang tuamu Ali “ kata ustad Hakim.
“Pasti ustad”.
Terkadang ustad Hakim terkagum pada Ali. Diusianya yang terbilang masih muda itu, sudah banyak sekali ia diberi cobaan oleh Allah .tetapi , Ali selalu sabar saja untuk menghadapi cobaan itu.
Bukan Allah ingin bertindak kejam , melainkan Allah ingin menguji keimanan dan kesabaran umatnya. Dari cobaan itulah pasti ada hikmah dibaliknya .Coba untuk selalubersabar. Apapun cobaan itu , jadilah seseorang yang tegar dan ikhlaskan semua karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.