• Meriahkan HUT RI Ke-72, Kepala Madrasah Ikuti Lomba Tarik Tambang

    Meriahkan HUT RI Ke-72, Kepala Madrasah Ikuti Lomba Tarik Tambang

    Kepala Madrasah KH. Moh. Hasan Naufal (Bersepatu) saat Mengikuti Lomba Tarik Tambang HUT RI ke 72

    Genggong- Banyak cara yang dilakukan untuk memeriahkan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia, salah satunya dengan mengadakan lomba-lomba. Seperti yang dilakukan Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong.  Usai melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih pada hari Kamis (17/8/2017), MTs. Zaha mengadakan berbagai lomba, yakni lomba tarik tambang, lomba bakiak, dan lomba balap karung.

    Lomba yang digelar di halaman madrasah setempat ini tak hanya diikuti oleh santri dari masing-masing kelas, tapi juga diikuti oleh para asatidz. Untuk kategori asatidz ini dibagi menjadi 4 kategori, yakni guru perwakilan dari pimpinan, perwakilan dari karyawan dan TU, perwakilan dari guru agama, dan perwakilan dari guru umum. Lomba pun semakin meriah, sebab kepala madrasah, KH. Moh. Hasan Naufal turun langsung ke lokasi perlombaan. Beliau bukan untuk menonton, tapi sebagai peserta dengan kategori pimpinan.

    Dalam perlombaan ini, lawan tak ditentukan menurut kategori, tapi sesuai hasil pengundian. Sehingga seringkali dalam perlombaan ini guru melawan santri. Tak seperti biasa, santri yang biasanya selalu nurut kepada guru tapi tidak untuk kali ini. Para santri dari perwakilan kelas tak mau kalah, mereka tampak semangat untuk menang meski yang menjadi lawan main adalah gurunya. “Ya inilah perlombaan. Kita adakan lomba ini sebagai hiburan untuk para santri. Konsep sederhana tapi meriah”, ujar ustadz Agus Setiawan, koordinator lomba.

    Lomba tarik tambang merupakan lomba yang pertama. Dalam lomba ini masing-masing regu berjumlah 5 orang. Perlombaan semakin seru saat laga regu guru melawan regu santri, disusul regu pimpinan melawan santri. Di regu pimpinan inilah kepala madrasah turun tangan melawan beberapa regu yang lain. Usai babak semi final regu pimpinan berhak masuk babak final setelah mengalahkan regu karyawan.  Hingga akhirnya di babak final ini regu pimpinan harus menerima kekalahan setelah berhadapan dengan kelas 9A                .

    Usai tarik tambang, lanjut dilaksanakan Lomba bakiak. Dalam lomba ini tak ada perwakilan guru yang juara. Semua juara diraih oleh perwakilan santri dari masing-masing keleas. Yakni juara 2 dari kelas 9D dan juara 1 diraih oleh kelas9B. Dilanjut dengan lomba balap karung yang dimenangkan oleh perwakilan pimpinan yang diwakili oleh ustadz Adit dan disusul oleh kelas 9A sebagai juara kedua.

    Kepala madrasah, KH. Moh. Hasan Naufal mengatakan bahwa lomba ini bertujuan untuk menjaga kekompakan dari seluruh lapisan madrasah. Beliau juga berharap dengan adanya kegiatan ini rasa kekeluargaan semakin terasa. “ Sebab kita memang menilai bahwa kita ini satu keluarga, yakni keluarga MTs. Zaha. Interaksi dengan para santri bukan hanya seperti interaksi guru dan murid, tapi juga kita harus bisa membangun hubungan seperti orang tua dan anak supaya tidak hanya ilmu yang disalurkan, tapi juga akhlak dapat kita tanamkan dengan kokoh, sehingga kita harus jaga itu. Salah satunya dengan kegiatan ini. Lomba ini yang pertama kali dilakukan, insya Allah tahun depan akan diadakan kembali dengan yang lebih meriah dari ini”, tuturnya. (pin)

  • Asatidz MTs. Zaha Ikut Meriahkan Lomba Gerak Jalan

    Asatidz MTs. Zaha Ikut Meriahkan Lomba Gerak Jalan

    Asatidz MTs. Zaha saat Mengikuti Gerak Jalan HUT RI ke 72

    GENGGONG- Kegiatan gerak jalan se kecamatan Pajarakan kembali digelar. Senin (14/8/2017) sejumlah pelajar dari berbagai lembaga di kecamatan Pajarakan ikut serta meramaikan kegiatan tahunan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia itu. Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong termasuk salah satu dari peserta kegiatan tersebut.

    Sebanyak 3 peleton santri MTs. Zaha  itu masing-masing mengenakan seragam yang biasa digunakan setiap harinya. Diantaranya berseragam pramuka dengan atribut lengkap, seragam khas warna biru, dan seragam putih dongker lengkap dengan rompi pelopor kedisiplinan. Mereka tampak semangat menempuh rute dari Ketompen hingga PG Pajarakan sejauh 6 kilometer lebih itu.

    Selain mendelegasikan 3 peleton santri,  madrasah yang dipimpin oleh KH. Moh. Hasan Naufal ini juga mengirimkan 1 peleton kategori peserta kehormatan. Yakni peleton yang terdiri dari asatidz atau guru madrasah setempat yang dikomandani oleh ustadz Mutawalli Asyarowy, Pembina pramuka yang biasa dipanggil Kak Roy ini. Disini mulai tampak perbedaan dari beberapa peserta kategori pelajar, baik dari segi usia maupun penampilan. Tak sedikit peserta dari peleton ini yang berkumis dan berjenggot.

    Meski begitu, semangat untuk menempuh garis finish tetap berkobar. Berbekal latihan ditengah-tengah kesibukan mengajar para asatidz kompak berbaris. Bahkan beberapa variasi baris-berbaris seringkali ditampilkan. “Latihan hanya dua kali. Sehari se

    belum pelaksanaan dan pagi sebelum pelaksanaan ini”, ujar ustadz Agus Setiawan, Pembina OSIS yang juga mengkoordinir para asatidz.

    Disisi lain, Kak Roy mengatakan bahwa tujuan mengikuti kegiatan gerak jalan ini tak lain untuk mengenalkan kepada masyarakan bahwa asatidz MTs. Zaha selalu kompak. Selain itu juga untuk ikut memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia. “kita tak mengejar juara, tapi yang penting kita bisa menunjukkan kekompakan kita. Ya syukur kalau nantinya bisa juara juga”, ujarnya. (Pin)

  • Sosialisasikan Visi dan Misi Madrasah kepada Wali Santri Baru

    Sosialisasikan Visi dan Misi Madrasah kepada Wali Santri Baru

    Kepala Madrasah Memberikan Sambutan Saat Sosialisasi Visi Misi dan Tujuan Madrasah

    Genggong- Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong mengadakan rapat bersama wali santri baru kemarin Ahad (30/7).  Rapat yang dikemas dalam kegiatan silaturrahim bersama pimpinan dan asatidz ini berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Damanhury Romli Genggong. Silaturrahim ini juga dimanfaatkan oleh pihak madrasah untuk menyampaikan visi, misi, dan tujuan madrasah kepada wali santri baru.

    Usai pembukaan, acara dilanjut pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh AfindraYanuarsyah santri kelas IX A MTs. Zaha Genggong yang sempat meraih Aksioma tahun lalu.

    Acara dilanjutkan dengan laporan pendidikan oleh wakil kepala madrasah (wakamad) kurikulum Ustadz H. M. Harsoyo Mukhtar. Dalam laporannya beliau menyampaikan visi, misi, dan tujuan Madrasah. Dalam pemaparannya beliau menegaskan bahwa untuk  mewujudkan visi, misi, dan tujuan madrasah, beliau meminta para wali santri pro-aktif berkomunikasi dengan pihak madrasah, baik melalui wali kelas, guru BK, atau melalui seluruh waka. Beliau juga menghimbau para wali santri untuk selalu memotivasi dan mendukung putra dan putrinya yang telah memantapkan pilihannya kepada MTs. Zaha Genggong.

    Beliau juga menyampaikan beberapa program yang sedang dilaksanakan oleh madrasah. Salah satunya menyelenggarakan program SKS by School  sehingga dapat pula menyediakan program peserta didik cerdas istimewa yang nantinya dapat lulus dalam 2 tahun. Lalu program pembangunan gedung baru yang saat ini masih berjalan. “Mulai tahun ini MTs. Zaha sudah menggunakan program SKS by School, jadi mohon doanya semoga bisa berjalan dengan lancar dan sukses”, paparnya.

    Selain itu, Kepala Madrasah KH. Moh. Hasan Naufal mengatakan bahwa Genggong merupakan pesantren yang paling besar barokahnya. Sudah mafhum bersama bahwa Genggong adalah Pesantren yang besar barokahnya dan juga besar bala (kualat) nya.

    Kepala Madrasah yang juga pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong ini menyampaikan pesan agar di dalam belajar di pesantren ini harus mengutamakan Pesantren, bukan mengutamakan madrasah atau sekolah. Pesantren merupakan induk dari madrasah. “Sampai kapanpun Madrasah dan Pesantren di Genggong ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu kegiatan santri di Pesantren tetap mendapatkan perhatian dari madrasah. Jika terdapat pelanggaran atau nilai kegiatan pesantren tidak mencapai nilai minimal yang ditetapkan, maka santri yang bersangkutan tidak bisa mengikuti segala bentuk ujian apapun di madrasah”. Tegasnya.

    Di sela sambutan, kepala Madrasah persembahkan pemutaran video profil sebagai bentuk gambaran MTs Zaha. Acara ditutup dengan pembacaan sholawat nabi yang dipimpin oleh kepala madrasah sendiri dengan diiringi oleh jam’iyah hadrah Munsyiduna MTs. Zaha Genggong. (Tgh/Fin)

  • Programkan Green Bike untuk Pererat Silaturrahim

    Programkan Green Bike untuk Pererat Silaturrahim

    Asatidz MTs. Zainul Hasan Genggong Foto Bersama Sebelum Berangkat Kampanyekan Green Bike

    Genggong- Bersepeda kini menjadi salah satu olahraga yang digemari masyarakat. Saat ini bersepeda tidak hanya sekedar untuk olahraga saja tapi juga menjadi sarana bersosialisasi dan menjalin silaturrahmi. Seperti yang dilakukan  para asatidz Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong hari Ahad (30/7). Mereka bersepeda bersama yang dipimpin langsung oleh kepala madrasah, Abuya KH. Moh. Hasan  Naufal, S.H.I.

    Kegiatan yang dilaksanakan oleh MTs Zaha ini bertujuan untuk memperarat silaturrahmi antara semua stake holder di MTs Zainul Hasan Genggong dan juga bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa solidaritas asatidz di MTs Zaha selalu terjaga erat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan pendidikan umat.Selain itu, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk merealisasikan program bersepeda yang beberapa waktu lalu menjadi pembahasan di intern pimpinan madrasah.

    Start dari halaman madrasah, rombongan mulai mengayuh pedalnya menuju arah selatan. Lalu menuju daerah Temenggunan dan Selogudig. Dilanjut melewati Patemon dan Jatiurip dengan finish kembali di halaman madrasah. kurang lebih jarak 18 kolometer ditempuh oleh rombongan.

    Tampak para asatidz ada yang menggunakan sepeda tua (ontel), sepeda gunung, bahkan sepeda mini. Sebab memang tak ada kreteria sepeda khusus yang ditentukan dalam kegiatan ini. “Kita beri nama kegiatan ini dengan sebutan Green Bike. Semua jenis sepeda bisa, asal bukan sepeda motor”, ujar kepala madrasah.

    Kegiatan bersepeda ini, lanjut kepala madrasah, merupakan intruksi ketua yayasan pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong untuk diterapkan di lembaga yang berada dibawah naungan yayasan dengan tujuan untuk mengurangi polusi dan membiasakan dengan hidup sehat. “jadi nantinya asatidz yang jarak rumahnya dengan madrasah kurang dari 3 kilometer untuk berangkat ke madrasah harus bersepeda. Madrasah Tsanawiyah yang mengawali, semoga nanti lembaga lain bisa menyusul”, jelasnya

    Sementara itu, wakamad Humas, ustadz Teguh Firmansyah yang juga koordinator kegiatan menyebutkan bahwa sebelum dikampanyekan, para asatidz yang jaraknya dekat dengan madrasah sudah mulai menggunakan sepeda untuk berangkat ke madrasah sejak beberapa hari lalu. “Sejak ada kabar guru yang rumahnya dekat harus bersepda, asatidz MTs. Zaha sudah mulai banyak yang bersepeda ke madrasah. Dan Alhamdulillah kegiatan kampanye ini berjalan dengan lancar”, ujarnya. (Tgh/Fin)

  • Kenalkan Sejarah Pesantren dengan Ziarah

    Kenalkan Sejarah Pesantren dengan Ziarah

    Santri Baru Putri saat Ziarah di Maqbaroh

    Genggong-Kegiatan Masa Ta’aruf Santri Madrasah (Matsama) Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan Genggong di hari terakhir diisi dengan kegiatan ziarah ke makam para masyayikh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (27/7) ini Selain mengenalkan para pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong, kegiatan ini juga bertujuan  agar santri baru mengetahui sejarah dan kisah-kisah para pendiri pesantren.

    Kegiatan religi ini dipandu oleh beberapa ustadz dari madrasah setempat, di antaranya Ustadz Sandi Zainullah dan Ustadz Ali Wapa untuk rombongan santri putra. Sedangkan santri putri dipandu oleh Ustadz Teguh Firmansyah, Ustad Agus Setiawan, dan Ustad Junaidi Sukian. Santri putra dan santri putri melakukan ziaroh secara bergantian.

    Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diawali oleh santri putra yang berangkat dari kantor MTs. Zaha Putra menuju maqbaroh yang berada di kompleks pesantren. Sedangkan santri putri menunggu di Aula Putri MTs. Zaha. Maqbaroh yang terletak di samping Masjid Jami’ Al-Barokah Pesantren Zainul Hasan Genggong ini terdapat makam pengasuh kedua Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Almarhum Al-‘Arifbillah KH. Moh. Hasan atau yang dikenal dengan sebutan Kiai Sepuh, makam pengasuh ketiga, KH.  Hasan Saifourridzal, dan Nyai Hj. Himami Hafsawati serta beberapa para keturunan Kyai Sepuh. Para santri tampak antusias mendengar salah satu kisah Kiai sepuh yang diceritakan oleh Ustadz Sandi Zainullah.”ketika Sang Ibu Khodijah Mengandung Kyai Hasan, beliau suatu malam bermimpi memakan rembulan. Menurut yang menafsirkan mimpiya bahwa anak yang dikandungnya akan menjadi orang besar. Benar saja, beliau adalah Kiai sepuh yang telah kita ketahui bersama.” Terangnya. Kegiatan dilanjutkan dengan tahlil bersama.

    Setelah itu, rombongan santri baru didampingi pemandu berjalan ke arah barat menuju maqbaroh yang tak jauh dari tempat pertama meski lokasinya berada di luar kompleks pesantren. Di maqbaroh ini, terdapat beberapa makam para masyayikh Genggong, antara lain Kiai Ahmad Nahrawi, Kiai Asnawi, Kiai Nawawi, Kiai Tuhfah, KH. Ali Munib As’ad dan putranya (Gus Ainun Naim) serta beberapa makam keturunan KH. Moh. Hasan Genggong. Salah satu pemandu ziaroh, Ustad Teguh Firmansyah sempat bercerita sedikit tentang kisah salah satu Kiai, “Beliau (Kiai Tuhfa) ketika masih belia, umur dua belas tahun, sudah pandai sekali mengarang kitab.” Paparnya yang dilanjut dengan tahlil bersama.

    Selepas dari mabaroh ini, rombongan berjalan ke arah barat menyusuri sawah-sawah guna melanjutkan perjalanan ziarah. Makam yang terletak di tengah-tengah sawah ini merupakan makam pendiri pertama Pondok Genggong, Kiai Zainal Abidin. Sesampainya di maqbaroh, para santri memilih beristirahat sejenak sebelum melakukan tahlil.

    Selesai berziaroh, para santri baru kembali ke madrasah dengan melewati jalan KH. Hasan Saifourridzal. Meskipun harus berjalan lebih dari satu kilo meter, tidak ada kesan lelah dari para santri. Sebaliknya, mereka merasa senang bisa mengunjungi makam para Masyayikh Genggong sambil jalan-jalan. “nggak capek, sih. Malah seneng bisa tahu tempat-tempat makam para Kiai Genggong dan tahun sejarahnya. Asyik juga bisa jalan-jalan.” Ucap Adenrael Arkansyah, salah satu santri baru program Fullday Agama. (Gus/Fin)

  • Serunya Diklat Menghafal Cepat Asmaul Husna

    Serunya Diklat Menghafal Cepat Asmaul Husna

    Santri Semangat Mengikuti Diklat Asmaul Husna saat Matsama Tahun Pelajaran 2017-2018

    Genggong-Salah satu keunggulan santri Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan Genggong adalah dapat menghapal Asma’ul Husna. Itulah salah satu alasan mengapa para santri baru MTs. Zainul Hasan Genggong selalu dibekali dengan kegiatan Diklat Menghapal Cepat Asmaul Husna. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan ini termasuk salah satu rangkaian kegiatan Matsama (Masa Ta’aruf Santri Madrasah). Kegiatan yang dipandu oleh Ustad Ali Wafa Baiquni, S.H.I. dan Ustad Abdul Manaf tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 22-23 Juli 2017 bertempat di Gedung Olahraga (GOR) Damanhury Romli PZH Genggong.

    Dalam kegiatan tersebut, para santri diajarkan bagaimana tata cara menghapal Asmaul Husna dengan metode-metode matrikulasi. Dengan harapan, santri baru dapat menghapal 99 nama Allah itu  tidak hanya secara urut, namun juga secara acak lengkap dengan artinya.

    Kegiatan yang diikuti oleh seluruh santri baru, baik putra maupun putri tersebut berlangsung lancar. Para santri baru tampak antusias mengikuti berbagai arahan dan bimbingan dari pemateri. Penyampaian tata cara hapalan pun disampaikan secara santai tapi serius sehingga para santri tidak bosan menyimak arahan-arahan dari nara sumber.

    “seru banget. Cara menjelaskannya juga enak sehingga cepat nyantol. Dan bisa nyanyi-nyanyi juga, jadinya kita nggak bosan” Ucap Ifadila Rahmadani, salah satu santri baru Program PDCI yang berasal dari Jember.

    Di akhir kegiatan, Ustad Abdul Manaf, salah satu pemateri berpesan agar para santri baru selalu mengamalkan Asmaul Husna di mana pun. “ saya berharap, Asmaul Husna ini tidak hanya dihapalkan di sini, namun juga diamalkan di mana saja, baik itu di sekolah, pondok, atau pun rumah. Karena banyak sekali manfaat yang akan kita dapat.” Tuturnya.

    Selain mendapat bekal melalui kegiatan Diklat Asmaul Husna di acara Matsama, para santri yang ingin memantapkan hapalannya dapat mengikuti kegiatan Students Day Menghapal Cepat Asmaul Husna yang diadakan sepekan sekali. (Gus/Fin)

  • Berbanggalah Menjadi Bagian dari Keluarga Besar MTs. Zainul Hasan Genggong

    Berbanggalah Menjadi Bagian dari Keluarga Besar MTs. Zainul Hasan Genggong

    Penyematan identitas peserta Matsama oleh wakamad kurikulum, ustadz H.M. Harsoyo Mukhtar, S.Ag., M.M

    Genggong- Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan santri baru Madrasah Tsanawiyah  Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong diawali dengan pelaksanaan pengenalan madrasah kepada santri baru. Tahun ini kegitan tersebut diatur oleh kementerian Agama dengan nama kegiatan MATSAMA atau Masa Ta’aruf  Santri Madrasah. Bertempat di halaman MTs. Zaha Putra, kegiatan Matsama  ini dimulai dengan pembukaan pada Selasa, 18 Juli 2017 pukul 07.30 WIB. Seluruh santri baru yang berjumlah lebih kurang 400 mengikuti kegiatan pembukaan ini yang didampingi oleh pengurus OSIS Putra dan Putri.

    Pembukaan Matsama diawali dengan pembacaan surat Al Fatihah yang dipandu oleh salah seorang pengurus OSIS Putri, Adinda Febriani Saputri, yang saat itu juga ditugasi menjadi pemandu acara. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penyematan atribut Matsama oleh Wakamad Kurikulum, Ustadz H.M. Harsoyo Mukhtar, S. Ag., M.M. kepada perwakilan santri baru sebagai tanda peserta siap mengikuti semua rangkaian kegiatan Matsama.

    Pada kegiatan tersebut, Ustadz H.M. Harsoyo Mukhtar, juga mewakili Kepala Madrasah yang berhalangan hadir untuk memberi sambutan sekaligus membuka kegiatan Matsama. Dalam sambutannya, wakil kepala bagian kurikulum MTs. Zaha asal Karangpranti tersebut menuturkan bahwa santri baru sudah menjadi bagian dari keluarga besar MTs. Zainul Hasan Genggong. “Berbanggalah kalian masuk ke MTs. Zaha Genggong tercinta ini. Berbanggalah kalian menjadi santri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong ini. Karena mulai sekarang, kalian sudah menjadi bagian dari MTs. Zainul Hasan Genggong, terlebih lagi, kalian adalah bagian dari Pesantren Zainul Hasan Genggong”, tegasnya.

    Usai pembukaan, santri baru langsung mengikuti penyampaian materi pertama tentang Visi, Misi, Tujuan serta Program MTs. Zaha yang juga disampaikan oleh ustadz H.M Harsoyo Mukhtar. penyampaian materi ini berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Damanhury Romli PZH Genggong.

    Sesuai jadwal yang ada, santri baru akan menjalani serangkaian kegiatan Matsama yang akan berlangsung selama delapan hari. Selain ta’aruf dengan teman-teman baru, kakak kelas dan pengurus OSIS serta para asatid, kegiatan ini juga bertujuan mengenalkan lingkungan madrasah dan pesantren kepada santri baru. (Gus/Fin)

  • Tentukan Pilihan Program, Santri Baru Ikuti Tes IQ

    Tentukan Pilihan Program, Santri Baru Ikuti Tes IQ

    Serius: Santri Baru MTs. Zaha Genggong Saat Mengikuti Tes IQ.

    Genggong- Seluruh santri baru Madrasah Tsanawiyah Zainul Hasan (MTs. Zaha) Genggong mengikuti tes Intelligence Quotient (IQ) kemarin Senin (16/7). Tes ini merupakan rangkaian yang harus diikuti oleh semua santri baru untuk mengukur IQ yang dimiliki. Sebab, nantinya bagi siswa yang memiliki IQ diatas 130 akan direkomendasikan untuk mengikuti program Peserta Didik Cerdas Istimewa atau PDCI.

    Dalam pelaksanaan tes IQ yang pertama kali ini MTs. Zaha bekerjasama dengan Universitas Sunan Ampel Surabaya (UINSA). “Kita pilih UINSA atas rekomendasi kanwil kemenag provinsi. Semoga hasilnya maksimal, utamanya santri yang sudah memilih program PDCI,”, ujar ustadz Hazbullah Rohman, ketua program PDCI MTs. Zaha.

    Sebab, lanjut ustadz Hazbul, untuk mengetahui minat santri yang ingin masuk ke program PDCI ini sudah diberikan pilihan program untuk dipilih saat mengisi formulir pendaftaran, yakni pada pilihan program PDCI, fullday agama,  fullday umum, ataupun reguler. Namum pilihan tersebut hanya sementara, bisa jadi santri yang memilih program PDCI tidak bisa masuk program PDCI jika IQ tidak mencapai 130. Begitu juga santri yang memilih non PDCI jika hasil tesnya mencapai IQ 130 bisa direkomendasikan untuk mengikuti program PDCI. “Kepastiannya menunggu hasil tes IQ ini. Setidaknya santri yang telah memilih program PDCI ini bisa mencapai IQ 130”, harapnya.

    Oleh karena itu, Santri yang mengikuti tes IQ ini terbagi menjadi 10 ruang, yakni 4 ruang untuk santri putra dan 6 ruang untuk santri putri. Seluruhnya bertempat di gedung MTs. Zaha Putra. Sedangkan santri yang memilih program PDCI disediakan ruang 1 untuk santri putra dan ruang 5 untuk santri putri.

    Terkait dengan hasil tes IQ ini, pihak UINSA ketika dikonfirmasi kembali melalui telpon mengatakan bahwa nilai akan selesai pada hari Senin mendatang. “kami usahakan tanggal 24 Juli hasilnya dikirim ke MTs. Zaha”, tegasnya.

    Sementara itu, pada hari Selasa atau sehari setelah hasil tes diterima, panitia Penerimaan Peserta Didik Baru dan pengelola program PDCI akan mengundang wali santri yang putra dan putrinya memiliki IQ minimal 130 agar hadir ke madrasah untuk wawancara. “Kami akan menghubungi wali santri yang IQ putra atau putrinya mencapai 130 sekaligus akan kami undang untuk wawancara”, ujar ustadz Hazbul. (Fin)